Enam kitab hadis utama yang menjadi rujukan bagi para ulama hadis, fiqh, dan tafsir, serta dikenal dengan istilah Kutub al-Sittah, terdiri atas karya para imam besar seperti al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah. Berdasarkan penjelasan tersebut, istilah Kutub al-Sittah berarti
Pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم, proses penyampaian hadis kepada para sahabat lebih dominan dilakukan secara lisan. Hal ini berkaitan dengan karakteristik masyarakat Arab yang mengandalkan kekuatan hafalan, sementara kemampuan baca-tulis belum tersebar luas. Oleh karena itu, para sahabat menghafal sabda Nabi secara berulang dan menyampaikannya dalam majlis ilmu. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada masa Nabi
Ibn Hajar al-‘Asqalani mendefinisikan Ulumul Hadis sebagai ilmu yang dengannya diketahui keadaan para periwayat dan matan hadis dari segi diterima atau ditolaknya sebuah riwayat. Berdasarkan definisi tersebut, fokus utama ilmu ini terletak pada
Hadis Nabi صلى الله عليه وسلم tidak hanya berfungsi sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, tetapi juga berperan penting dalam memperjelas ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat global. Ketika hadis menjelaskan rincian hukum, tata cara ibadah, dan prinsip muamalah secara konkret yang tidak dijelaskan oleh Al-Qur’an, fungsi tersebut disebut sebagai fungsi
Imam al-Bukhari dikenal memiliki metode paling ketat dalam seleksi sanad hadis. Ia mensyaratkan bahwa setiap perawi harus hidup sezaman dan terbukti pernah bertemu langsung dengan gurunya. Dengan kriteria ini, Sahih al-Bukhari menjadi kitab dengan standar tertinggi dalam autentikasi hadis. Hal ini menunjukkan bahwa metode Imam al-Bukhari menekankan pada
Seorang sahabat Nabi yang dikenal memiliki izin khusus untuk menulis sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم serta memiliki catatan pribadi bernama Ash-Shahifah Ash-Shadiqah adalah
Bagi mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah, mempelajari Ulumul Hadis bukan hanya bersifat teoretis, tetapi juga aplikatif dalam menilai keabsahan hadis-hadis yang menjadi landasan hukum dalam praktik muamalah. Dengan memahami prinsip-prinsip sanad dan matan, mahasiswa dapat menyeleksi hadis sahih yang berkaitan dengan jual beli, riba, dan zakat sehingga tidak terjebak pada riwayat palsu. Pernyataan ini menjelaskan bahwa urgensi utama mempelajari Ulumul Hadis bagi mahasiswa adalah
Salah satu cabang penting dalam ilmu hadis adalah kajian tentang turuq al-tahammul wa al-ada’. Secara konseptual, istilah ini menunjuk pada …
Dalam studi hadis, hubungan antara sanad dan matan bersifat integral. Artinya, …
Pada awal abad ke-2 Hijriah, seorang khalifah dari Dinasti Umayyah yang dikenal saleh dan berwawasan luas memberikan instruksi resmi kepada para ulama untuk menghimpun hadis Nabi secara sistematis agar tidak hilang bersama wafatnya para perawi. Kebijakan ini menandai awal kodifikasi hadis secara formal. Khalifah tersebut adalah
Salah satu karakteristik unik peradaban Islam adalah konsep isnad. Dalam konteks metodologi ilmiah, konsep ini berfungsi untuk …
Proses transmisi hadis dari Nabi kepada sahabat melalui jalur ucapan, tindakan, dan ketetapan beliau disebut dengan istilah
Hadis mutawatir memiliki derajat paling tinggi dalam validitas periwayatan karena diriwayatkan oleh banyak perawi di setiap tingkat sanad. Secara epistemologis, hadis mutawatir memberikan ilmu …
Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW pernah menggunakan metode mukatabah untuk menyampaikan hukum-hukum syariat. Salah satu contohnya adalah …
Hadis ahad merupakan hadis yang diriwayatkan oleh satu atau beberapa perawi di setiap tingkat sanad, sehingga tidak mencapai derajat mutawatir. Walau demikian, hadis ahad dapat diterima sebagai hujjah apabila …
Pada masa pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, perhatian umat Islam lebih difokuskan pada pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an, terutama setelah banyak penghafal gugur dalam peperangan. Akibatnya, periwayatan hadis belum dikodifikasi secara resmi dan lebih mengandalkan hafalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa
Hadis yang diriwayatkan oleh satu perawi saja disebut gharib al-hadis. Jenis hadis ini memiliki risiko tinggi dalam keabsahan karena …
Para ulama membedakan munawalah ma‘a al-ijazah dan munawalah bi ghayr ijazah. Berdasarkan hal tersebut, bentuk munawalah yang diterima secara sahih adalah …
Dalam praktiknya, para ulama hadis menilai keabsahan matan dengan menghindari riwayat yang mengandung kejanggalan (syadz) atau cacat tersembunyi (‘illah). Tujuan utama dari penilaian ini adalah …
Dalam ilmu hadis dikenal istilah ittisal al-sanad, yaitu kesinambungan jalur periwayatan tanpa adanya perawi yang terputus. Jika dalam suatu sanad ditemukan adanya perawi yang tidak pernah bertemu dengan gurunya, maka hadis tersebut disebut …
Kritik matan merupakan upaya ilmiah untuk menilai kesahihan isi hadis, baik dari segi kesesuaian dengan prinsip syariat maupun logika akal sehat. Apabila ditemukan hadis yang bertentangan secara eksplisit dengan prinsip keadilan atau rahmat Islam, maka langkah yang diambil oleh seorang ahli hadis adalah …
Salah satu cabang penting dalam Ulumul Hadis adalah ilmu yang mengkaji biografi para perawi hadis, mencakup asal-usul, tempat tinggal, guru, murid, reputasi moral, dan tingkat keakuratan hafalannya. Melalui cabang ilmu ini, para ulama dapat menentukan apakah seorang perawi tergolong tsiqah (terpercaya) atau lemah. Ilmu yang dimaksud adalah
Salah satu indikator validitas sanad adalah ketika seluruh perawi dalam rantai periwayatan memiliki reputasi sebagai orang yang adil, jujur, dan terpercaya. Jika ditemukan seorang perawi yang dikenal berdusta, maka hadis tersebut …
Ulama hadis klasik seperti Ibn al-Mubarak menegaskan bahwa sanad merupakan bagian integral dari agama. Tanpa sanad, keotentikan hadis tidak dapat dijamin karena siapa pun bisa mengatasnamakan Nabi. Pernyataan ini menegaskan bahwa …
Hadis maudhu’ atau hadis palsu merupakan hasil rekayasa yang disandarkan kepada Nabi tanpa dasar periwayatan yang sah. Dalam pandangan ulama, hadis maudhu’ muncul akibat …
Seiring wafatnya banyak sahabat, meluasnya wilayah Islam, serta munculnya hadis-hadis palsu bermotif politik dan ideologis, para ulama menyadari pentingnya penghimpunan hadis dalam bentuk kitab agar sunnah Nabi tidak hilang. Proses sistematis ini dikenal dengan istilah tadwin al-hadis dan menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Berdasarkan konteks tersebut, kodifikasi hadis dilakukan sebagai
Kritik sanad berfungsi untuk menilai aspek keilmuan para perawi, sementara kritik matan menilai isi riwayat. Jika ditemukan hadis yang sanadnya sahih namun matannya bertentangan dengan prinsip syariat, maka …
Metode al-qira’ah ‘ala al-syaikh dianggap sahih karena melibatkan proses akademik antara murid dan guru. Dalam metode ini, proses periwayatan terjadi ketika …
Sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, hadis berfungsi mengokohkan fondasi etika, sosial, dan hukum dalam kehidupan umat Islam. Dalam konteks kontemporer, penguasaan Ulumul Hadis sangat penting bagi mahasiswa Ekonomi Syariah karena …
Dalam perspektif Ekonomi Syariah, pemahaman terhadap Ulumul Hadis sangat penting karena banyak konsep ekonomi seperti zakat, riba, dan etika perdagangan bersumber dari hadis Nabi صلى الله عليه وسلم. Melalui analisis sanad dan matan, mahasiswa dapat menentukan hadis sahih yang layak dijadikan dasar hukum muamalah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa fungsi utama Ulumul Hadis bagi pengembangan ekonomi syariah adalah
Dalam disiplin ilmu hadis, istilah riwayah al-hadis memiliki arti yang sangat penting karena berkaitan dengan proses transmisi hadis dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berdasarkan pengertian terminologisnya, riwayah al-hadis dipahami sebagai …
Salah satu faktor historis paling mendesak yang mendorong kodifikasi hadis adalah wafatnya para sahabat yang merupakan gudang ilmu dan hafalan hadis. Peristiwa seperti Perang Yamamah telah menimbulkan kekhawatiran besar terhadap hilangnya sumber riwayat otentik. Oleh karena itu, alasan utama dilakukannya kodifikasi hadis adalah
Dalam tradisi kritik matan, ulama hadis menetapkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah hadis dapat diterima. Salah satu kriterianya adalah bahwa hadis tersebut tidak boleh bertentangan dengan fakta sejarah dan realitas empiris. Prinsip ini menegaskan bahwa …
Dalam sistem hukum Islam, hadis berperan sebagai bayan (penjelas) terhadap Al-Qur’an. Artinya, hadis dapat memberikan rincian terhadap ayat-ayat hukum yang bersifat umum, termasuk dalam bidang muamalah. Contohnya, hadis menjelaskan mekanisme zakat yang dalam Al-Qur’an hanya disebut secara global. Dengan demikian, fungsi hadis dalam penegakan hukum Islam adalah …
Riwayat dalam Shahih Muslim menyebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku selain Al-Qur’an.” Larangan ini muncul pada masa awal Islam untuk mencegah tercampurnya wahyu Al-Qur’an dengan ucapan Nabi yang bersifat penjelasan. Berdasarkan konteks historis tersebut, dapat disimpulkan bahwa larangan menulis hadis
Dalam metodologi turuq al-tahammul wa al-ada’, salah satu metode yang memiliki kekuatan hujjah tertinggi adalah as-sama‘. Keunggulan metode ini terletak pada …
Abad ke-3 Hijriah dikenal sebagai masa keemasan ilmu hadis karena pada periode ini muncul para imam besar seperti al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah yang menyusun kitab-kitab hadis sahih dengan metode kritik sanad yang sangat ketat. Berdasarkan keterangan tersebut, masa keemasan kodifikasi hadis terjadi pada
Hadis hasan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan hadis shahih, namun tingkat ketepatan hafalan perawinya sedikit lebih lemah. Dengan demikian, hadis hasan tetap …
Ilmu dirayah al-hadis dibedakan dari riwayah al-hadis karena lebih menekankan pada aspek metodologis dan analisis ilmiah. Secara substantif, fokus utama ilmu dirayah adalah …
Dalam khazanah keilmuan Islam, terdapat suatu disiplin ilmu yang berfungsi menjaga kemurnian ajaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم melalui penelaahan mendalam terhadap sanad (rantai periwayatan), matan (teks hadis), serta kredibilitas perawi yang meriwayatkannya. Ilmu ini digunakan untuk menentukan apakah suatu riwayat dapat diterima sebagai hujjah atau harus ditolak karena kelemahan sanad atau isi. Ilmu yang dimaksud dalam pernyataan tersebut adalah
Kekuatan sanad tidak hanya terletak pada banyaknya perawi, tetapi pada kualitas kredibilitas setiap perawi yang terlibat dalam periwayatan. Oleh karena itu, para ulama hadis melakukan penelitian mendalam terhadap biografi perawi melalui disiplin ilmu yang disebut …
Kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas merupakan karya hadis awal yang disusun secara tematik dan menggabungkan antara riwayat hadis dan pendapat sahabat dalam satu karya ilmiah. Kitab ini menjadi model awal dalam penyusunan musannaf dan berfungsi sebagai rujukan utama di Madinah. Berdasarkan uraian tersebut, karakteristik utama al-Muwaththa’ adalah
Hadis yang secara isi bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang bersifat qath‘i (pasti) tidak dapat diterima karena …
Ilmu matan hadis merupakan bagian dari metodologi Ulumul Hadis yang menitikberatkan pada pemeriksaan isi dan makna suatu hadis. Tujuan utama kajian ini adalah …
Dalam kajian Ulumul Hadis, terdapat cabang ilmu yang berfungsi mengidentifikasi istilah-istilah teknis seperti sahih, hasan, dhaif, mutawatir, dan ahad yang digunakan dalam penilaian kualitas hadis. Ilmu ini menjadi alat konseptual untuk memahami klasifikasi hadis secara ilmiah. Ilmu tersebut dikenal dengan nama
Hadis dhaif adalah hadis yang memiliki cacat pada sanad atau matannya, baik karena terputus, perawinya tidak kuat hafalannya, atau terdapat ‘illah tersembunyi. Dalam konteks hukum Islam, hadis dhaif …
Atas instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang ulama besar dari kalangan tabi‘in menyusun hadis secara sistematis dan menjadi pionir awal dalam penulisan hadis. Ia dikenal sebagai tokoh yang meletakkan dasar bagi kodifikasi hadis di masa berikutnya. Ulama yang dimaksud adalah
Hadis shahih merupakan jenis hadis ahad dengan derajat paling tinggi karena memiliki sanad yang bersambung, perawi yang adil dan dhabith, serta matan yang tidak bertentangan dengan syariat. Berdasarkan definisi tersebut, ciri utama hadis shahih adalah …
Kriteria utama dalam penerimaan sanad hadis adalah keadilan (‘adalah) dan ketepatan hafalan (dabt) perawi. Hal ini menunjukkan bahwa validitas sanad sangat ditentukan oleh …
Dalam kajian hadis, sanad memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi rantai penghubung antara Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan para periwayat yang datang setelahnya. Tanpa adanya sanad, tidak mungkin keaslian suatu hadis dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berdasarkan hal tersebut, sanad dapat didefinisikan sebagai …