Dalam biografi Imam al-Bukhari disebutkan bahwa beliau banyak dipengaruhi tokoh besar seperti ‘Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawayh, dan Yahya ibn Ma‘in. Pengaruh yang kuat dari para gurunya ini tampak dalam…
Dalam hadis riba, Rasulullah SAW melaknat pihak yang makan riba, memberi riba, menulis, dan menyaksikan akadnya. Jika dianalisis secara ekonomi, penyetaraan dosa tersebut menunjukkan bahwa riba dipandang sebagai…
Dalam konteks kritik orientalis terhadap sanad, ulama hadis menekankan bahwa kontrol internal dalam tradisi periwayatan sangat ketat melalui jarh–ta‘dil, syarat tsiqah, dan stabilitas riwayat. Penegasan ini menunjukkan bahwa…
Hadis tentang kemudahan dalam membeli, menjual, dan menagih hutang (HR. Bukhari) mengajarkan bahwa rahmat Allah diberikan kepada mereka yang mempermudah urusan orang lain. Dalam kebijakan keuangan syariah modern, nilai hadis ini tercermin dalam…
Saat harga-harga naik pada masa Nabi SAW, para sahabat meminta beliau menetapkan harga. Namun Rasulullah menolak karena khawatir melakukan kezaliman dalam urusan harta. Sikap ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dalam harga hanya dibenarkan ketika…
Munculnya media digital dalam penyebaran hadis menghadirkan peluang besar: akses cepat ke database hadis, aplikasi mobile, dan website ilmiah. Namun, fenomena viralnya hadis-hadis palsu atau potongan hadis yang tidak sesuai konteks juga semakin meningkat. Tantangan utama studi hadis digital adalah…
Hadis “Allah-lah yang menetapkan harga, melapangkan dan menyempitkan rezeki” menunjukkan bahwa perubahan harga alami tidak selalu membutuhkan campur tangan pemerintah. Prinsip ekonomi yang tercermin dari hadis ini adalah…
Syudzudz merupakan salah satu indikator penting dalam menolak keabsahan sanad. Kejanggalan ini terjadi ketika seorang perawi terpercaya meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih kuat atau lebih banyak jumlahnya. Jika hal ini terjadi, maka hadis tersebut dinilai bermasalah karena…
Dalam kajian kritik sanad, para ulama hadis menegaskan bahwa kesinambungan jalur periwayatan merupakan syarat utama diterimanya sebuah hadis. Hal ini karena setiap perawi harus dapat dibuktikan menerima riwayat dari gurunya secara langsung. Jika terdapat satu mata rantai saja yang hilang, maka keabsahan hadis dapat dipertanyakan. Berdasarkan prinsip tersebut, konsep yang menekankan hubungan langsung antarperawi disebut…
Salah satu ciri kuat studi hadis kontemporer adalah penguatan kritik matan secara lebih sistematis. Penguatan ini dilakukan dengan menimbang kesesuaian matan dengan al-Qur’an, sejarah, budaya Arab awal, dan maqasid al-syari‘ah. Penguatan kritik matan ini muncul karena…
Salah satu teori Schacht yang paling berpengaruh adalah common link, yaitu apabila banyak sanad bertemu pada satu perawi, maka perawi tersebut dianggap sebagai “pencipta” hadis tersebut. Ulama hadis menolak teori ini karena…
Abu Dawud sebagai penyusun Sunan Abi Dawud dikenal memiliki orientasi fiqih yang kuat. Ia menghimpun hadis-hadis hukum (ahkam) yang diperlukan para fuqaha. Dalam proses seleksi riwayat, Abu Dawud sering mengumpulkan hadis dengan berbagai kualitas untuk tujuan istinbat. Prinsip utama yang ia gunakan dalam penulisan sunannya adalah…
Hadis ancaman bagi yang tidak membayar zakat (HR. Muslim) menggambarkan siksaan berupa pembakaran dahi, lambung, dan punggung. Setiap bagian tubuh tersebut dipahami ulama sebagai simbol penyakit hati tertentu yang menyebabkan seseorang enggan berzakat. Penggambaran simbolik ini terutama dimaksudkan untuk…
Hadis sahih memiliki lima syarat termasuk ittisal, ‘adalah, dabt, bebas syudzudz, dan bebas ‘illah. Jika ditemukan satu syarat pokok tidak terpenuhi—misalnya perawi tidak memiliki ketelitian yang cukup—maka hadis tersebut…
Jika dalam sebuah sanad terdapat seorang tabi‘in yang menyandarkan riwayat langsung kepada Nabi tanpa menyebut nama sahabat yang menjadi perantaranya, maka bentuk keterputusan sanad tersebut menimbulkan keraguan terhadap keaslian jalur periwayatan. Kategori hadis yang menunjukkan kondisi ini dikenal sebagai…
Dalam sejarah kodifikasi hadis, Imam al-Bukhari dikenal sebagai tokoh yang memadukan kecerdasan hafalan, ketelitian sanad, dan perjalanan ilmiah yang sangat luas. Ia menempuh rihlah ke berbagai pusat ilmu seperti Bukhara, Naisabur, Hijaz, Irak, Syam, hingga Mesir. Keberhasilan metode beliau tampak dari penyusunan Sahih al-Bukhari yang dianggap paling sahih oleh ulama. Faktor utama yang menjadikan seleksi hadisnya sangat ketat adalah…
Abu Dawud dikenal memiliki kecenderungan kuat terhadap fikih al-hadith, sehingga sebagian hadis yang ia masukkan bertujuan memperkaya istinbat hukum. Perbedaan metodologis Abu Dawud dibanding al-Nasa’i adalah…
Dalam kritik matan, ulama tidak hanya menilai kandungan hadis secara linguistik, tetapi juga menjaga agar teks hadis tidak bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam. Apabila sebuah hadis memiliki redaksi yang menyalahi ayat Al-Qur’an secara eksplisit, maka ulama menolak matan hadis tersebut karena…
Dalam biografi Imam Muslim disebutkan bahwa ia sangat menghormati al-Bukhari dan bahkan membelanya ketika terjadi fitnah ilmiah terhadap gurunya tersebut. Sikap ilmiah Muslim tersebut memberikan pengaruh besar pada penyusunan kitabnya, terutama…
Imam Muslim dikenal sebagai murid al-Bukhari yang sangat setia dan memiliki pendekatan sistematis dalam menyusun Sahih Muslim. Berbeda dari gurunya yang menempatkan hadis berdasarkan fiqh al-bab, Muslim menyusun riwayat per bab dengan seluruh jalur sanad dalam satu bagian tanpa memisahkannya. Ciri khas utama metodologi Muslim adalah…
Kritik sanad dan kritik matan merupakan dua instrumen yang saling melengkapi dalam ilmu hadis. Ulama menilai sanad terlebih dahulu karena tanpa jalur periwayatan yang sah, sebuah hadis tidak layak diuji isi matannya. Dengan demikian, hubungan antara keduanya menunjukkan bahwa…
Ketika ulama menilai kualitas perawi, mereka menelusuri aspek keadilan dan ketelitian berdasarkan kesaksian para imam hadis terdahulu. Seseorang dapat dinilai adil apabila memiliki integritas moral yang kuat, tidak melakukan dosa besar, serta tidak terus-menerus melakukan dosa kecil. Dalam konteks ilmu jarh wa ta‘dil, aspek sifat moral dan stabilitas perilaku perawi ini disebut…
Hadis tentang riba fadhl dan riba nasi’ah dalam pertukaran emas dan perak menjelaskan bahwa pertukaran barang ribawi sejenis mensyaratkan kesetaraan dan tunai. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah ketidakadilan dan manipulasi yang dapat merusak pasar. Dalam konteks ekonomi syariah modern, prinsip ini paling relevan dengan…
Dalam hadis zakat (HR. Bukhari & Muslim), Rasulullah memasukkan zakat sebagai salah satu pilar Islam bersama salat, puasa, dan haji. Dari sudut pandang ekonomi syariah, penempatan zakat sebagai rukun Islam menegaskan bahwa…
Dalam hadis pedagang jujur (HR. Tirmidzi), Nabi SAW menyebut pedagang amanah akan bersama nabi, shiddiqin, dan syuhada. Hal ini menunjukkan bahwa profesi ekonomi dapat bernilai spiritual tinggi apabila dilakukan dengan akhlak. Salah satu alasan utamanya adalah…
Penilaian matan juga mencakup evaluasi logis terhadap isi hadis. Jika suatu hadis menggambarkan tindakan yang bertentangan dengan hukum alam pada manusia biasa, sementara tidak dinyatakan sebagai mukjizat, maka ulama menganggap matannya lemah. Hal ini karena…
Pendekatan isnad-cum-matn yang dikembangkan sarjana seperti Harald Motzki menekankan analisis sanad dan matan secara bersamaan. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menelusuri usia riwayat dan memetakan asal-usulnya dalam jaringan transmisi awal. Keunggulan utama metode ini adalah…
Ignaz Goldziher sebagai orientalis skeptis menyatakan bahwa mayoritas hadis tidak lahir pada masa Nabi, tetapi merupakan refleksi perdebatan politik dan mazhab abad ke-2 hingga 3 H. Ia berpendapat bahwa hadis sering digunakan untuk melegitimasi pendapat kelompok tertentu. Pandangan tersebut didasarkan pada asumsi utamanya bahwa…
Ulama kontemporer seperti M.M. Azami membantah klaim orientalis skeptis dengan menunjukkan bukti penulisan hadis sejak masa Nabi dan sahabat. Salah satu bukti yang sering ia kemukakan adalah keberadaan sahifah seperti Sahifah Hammam ibn Munabbih. Keberadaan sahifah ini membuktikan bahwa…
Dalam kritik matan, ulama memeriksa apakah redaksi hadis sesuai dengan gaya bahasa pada masa Nabi. Jika ditemukan istilah modern atau struktur bahasa yang tidak dikenal pada abad pertama Hijriah, maka matan hadis tersebut ditolak karena…
Hadis tentang larangan berpisah sebelum saling meridhai (HR. Abu Dawud & Tirmidzi) menekankan bahwa ridha adalah syarat sah dalam akad. Dalam konteks pasar Madinah yang berkembang pesat, prinsip ini mencegah ketidakjelasan transaksi dan potensi perselisihan setelah akad berlangsung. Dengan demikian, fungsi utama ridha dalam hadis tersebut adalah…
Rihlah ilmiah adalah bagian penting dalam pembentukan kualitas para imam hadis. Baik al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, maupun Ibn Majah melakukan perjalanan ke kota-kota besar seperti Kufah, Bashrah, Naisabur, Hijaz, dan Mesir. Tujuan utama rihlah bagi para imam hadis tersebut adalah…
Ketika meneliti cacat tersembunyi dalam sanad (‘illah), para ulama sering menemukan adanya perawi yang tampak tsiqah tetapi melakukan kesalahan pada penggabungan dua sanad atau salah menyebutkan guru. Jika kesalahan ini ditemukan melalui perbandingan jalur, maka hadis tersebut…
Joseph Schacht mengembangkan teori argument e silentio, yaitu jika sebuah hadis tidak ditemukan dalam sumber awal (misalnya al-Muwatta’), maka diasumsikan hadis tersebut belum ada pada masa itu. Teori ini dikritik banyak ulama karena…
Salah satu kaidah utama dalam kritik matan ialah menilai kesesuaian teks hadis dengan fakta sejarah pada masa Nabi. Apabila sebuah hadis menggambarkan peristiwa yang secara historis tidak mungkin terjadi pada masa kehidupan Nabi, maka matan hadis tersebut dinilai bermasalah karena…
Dalam hadis larangan riba (HR. Muslim), Nabi SAW melaknat semua pihak yang terlibat, termasuk penulis akad dan dua saksinya. Hal ini menunjukkan bahwa riba merupakan sistem yang berdampak luas secara moral dan sosial. Prinsip fikih yang paling sesuai untuk menjelaskan perluasan dosa kepada semua pihak tersebut adalah…
Konsep living hadith dalam studi antropologi agama menekankan bahwa hadis tidak hanya hidup dalam teks-teks kitab, tetapi juga dalam praktik sosial masyarakat—seperti tradisi maulid, zikir, amalan pesantren, dan slogan-slogan keagamaan di ruang publik. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa…
Imam al-Tirmiżi dalam metode hadisnya sering menutup bab dengan pernyataan seperti: “wa ‘ala hadza ‘amal ‘inda jama‘ah min ahl al-‘ilm…”, yang menjelaskan praktik ulama mengenai hadis tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Tirmiżi dalam tradisi hadis sangat berkaitan dengan…
Walaupun Sunan Ibn Majah banyak dikritik karena memuat hadis lemah, keberadaannya tetap diterima dalam Kutub Sittah karena melengkapi riwayat yang tidak ditemukan pada Sunan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Sunan Ibn Majah dalam studi hadis lebih menekankan pada…
Imam al-Nasa’i dipandang ulama sebagai penyusun sunan dengan standar kesahihan paling tinggi setelah al-Bukhari dan Muslim. Bahkan sebagian ulama menilai Sunan al-Mujtaba lebih kuat secara sanad dibanding Sunan Abi Dawud maupun al-Tirmiżi. Tingginya kredibilitas kitabnya terutama ditentukan oleh…
Dalam penelitian sanad, ulama membandingkan beberapa jalur periwayatan (mu‘aradah al-asanid) untuk melihat konsistensi antara berbagai sanad yang berbeda. Apabila banyak jalur yang saling menguatkan, maka hal ini dapat menunjukkan bahwa hadis tersebut…
Prinsip saling meridhai dalam transaksi (taradin) sangat ditekankan Nabi SAW karena pada masa itu sering terjadi ketidakjelasan harga dan manipulasi barang. Jika dikaitkan dengan konteks e-commerce modern, penerapan prinsip ini menuntut…
Sunan Ibn Majah menjadi pembahasan panjang dalam sejarah hadis karena awalnya sebagian ulama tidak memasukkannya sebagai bagian dari Kutub Sittah. Hal ini terkait dengan banyaknya hadis yang dianggap lemah, namun kitab ini juga menyimpan banyak riwayat unik (fawa’id). Kedudukan Sunan Ibn Majah diakui karena…
Al-Nasa’i memiliki dua karya besar: al-Sunan al-Kubra dan versi ringkasnya al-Mujtaba. Banyak ulama menilai bahwa al-Mujtaba menjadi salah satu kitab Sunan paling sahih karena berisi pilihan hadis terbaik. Hal ini mencerminkan bahwa metodologi al-Nasa’i sangat menekankan…
Azami juga mengkritik teori projecting back Schacht yang menyatakan bahwa fuqaha memproyeksikan pendapat mereka ke masa Nabi melalui hadis. Kritik utama Azami adalah…
Dalam hadis Rafi' bin Khadij disebutkan bahwa pekerjaan terbaik menurut Nabi SAW adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan nilai moral dalam usaha ekonomi, terutama dalam hal kemandirian dan kejujuran. Berdasarkan konteks tersebut, makna “mabrur” dalam jual beli paling tepat dipahami sebagai…
Dalam hadis “Allah merahmati seseorang yang mudah ketika menjual, membeli, dan menagih hutang” (HR. Bukhari), kemudahan ini digambarkan sebagai nilai akhlak yang sangat penting. Jika diterapkan dalam ekonomi modern, sikap mudah tersebut terutama mencakup…
Ilmu Jarh wa Ta‘dil disusun sebagai metodologi formal untuk menilai kredibilitas perawi dalam periwayatan hadis. Jika seorang perawi dinyatakan saduq, maka ulama memberi penilaian bahwa perawi tersebut…
Perkembangan studi hadis pada abad ke-20 melahirkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan metode klasik seperti kritik sanad dan jarh–ta‘dil, tetapi juga memanfaatkan ilmu modern seperti sejarah-kritis, antropologi, linguistik, dan hermeneutika. Perluasan pendekatan ini menunjukkan bahwa kajian hadis tidak lagi berhenti pada penilaian “sahih atau tidak”, melainkan mencakup makna sosial dari hadis tersebut. Prinsip utama pendekatan kontemporer ini adalah…
Dalam Jami‘ al-Tirmiżi, Imam al-Tirmiżi tidak hanya menghimpun hadis tetapi juga memberikan komentar mengenai derajat hadis, perbedaan pendapat ulama, serta kecenderungan fiqih. Ia dikenal sebagai ulama yang mempopulerkan istilah “hasan sahih”. Perbedaan metodologis al-Tirmiżi dibanding imam lainnya terutama tampak pada…